Rabu, 20 Juli 2011
Menghindari rasa bosan di studio
Banyak cara ditempuh untuk menghindar dari rasa bosan ini, sedikit tips dari kami bagaimana untuk menghindarinya ketika rasa itu mulai mengganggu kinerja sahabat di tempat kerjanya masing-masing :
Mencoba hal baru.
Mencoba hal baru selalu membuat kita lebih bergairah di dalam menjalankan pekerjaan. Jika di bidang kami; mencoba pose baru, teknik lighting baru, angle yang berbeda, komposisi yang tidak biasa, apalagi pas ketemu dengan klien yang mau diajak bereksperimen dan bereksplorasi, klop deh!
Online.
Beruntung bagi mereka yang di tempat kerjanya menyediakan sambungan internet untuk update terhadap hal terbaru, FB-an atau sekedar memeriksa email tanpa mengganggu tugas utama.
Ngopi.
Selalu saja ada alasan untuk sejenak rehat dari pekerjaan. Untuk sekedar melarikan diri dari rutinitas. Anda bisa ngopi, merokok, makan cemilan, sambil ngobrol dengan topik yang ringan memyegarkan. Pokoknya hal yang bisa merefresh diri anda.
Around the mall.
Pelepasan kepenatan melalui rangsangan penyegaran secara visual merupakan salah satu cara yang ampuh untuk menghindari kebosanan.Jalan-jalan atau window shopping bisa merupakan salah satu jalan keluarnya.
Tips di atas merupakan rangkuman dari pengalaman favorit kami untuk mengusir kejenuhan ketika kami sedang menjalankan tugas. Untuk kegiatan yang lain tentunya bisa disesuaikan dengan kondisi dan situasi di tempat kerja para sahabat masing-masing.
Selamat mencoba.
foto : tukangpoto
Senin, 18 Juli 2011
Rindu hujan
Sabtu, 16 Juli 2011
Lighting high key
Biasanya lighting high key ini diterapkan pada pemotretan yang menginginkan agar detail pada sebuah obyek dapat terekam dengan jelas, memberikan mood yang cerah dan atmosfir yang gembira.
Diantaranya pada pemotretan foto produk, fashion, baby atau anak-anak.
Set up penerapan lighting high key ini bisa bermacam-macam, diantaranya :
Lighting satu lampu.
Satu lampu sebagai mainlight menggunakan softbox minimal berukuran 120x60, agar cahaya dapat jatuh lebih merata dan mengeliminir adanya bayangan. Disetel overexpose antara 1/2 sampai 1 stop tergantung efek yang dikehendaki.
Lighting dua lampu.
Dua lampu sebagai mainlight menggunakan softbox minimal 60x60 serta diposisikan equivalen terhadap obyek sebagai sumbu. Jadi tidak ada lampu yang berfungsi sebagai fill-in.
Jika masih timbul bayangan atau gradasi terang gelap pada obyek, bisa dihindari dengan memaksimalkan fungsi dari reflektor.
Semoga membantu.
foto : tukangpoto
Minggu, 10 Juli 2011
Kolak tape ibu
Kuingat ibu
sebagai orang yang mengantar
langkah pertamaku ke dunia
yang selalu memberi jajan
minum jamu beras kencur
atau sebungkus kwetiau goreng
setiap aku ikut ke pasar
yang selalu membuatkan makanan kesukaanku
jasa dan pengorbananmu
yang sudah menjadikan raga ini
Selamat ulang tahun ibu
selamat jalan
tersenyumlah
sampai kita bertemu kembali
Menjelang Ramadhan ini
kangenku akan kolak tape buatanmu...
Kredit foto : saya digendong ibu, umur 2 bulan, 21 06 1973
di Kampung Tanjung, Bandung.
Senin, 13 Juni 2011
Tips mengenal reflektor
Ketika memotret seorang model atau sebuah produk dan merasa ada bagian-bagian dari obyek tersebut yang kurang tercahayai oleh sumber cahaya utama tapi menginginkan cahaya yang lembut untuk mengisinya di sinilah kehadiran reflektor untuk memantulkan cahaya tambahan diperlukan.Berdasarkan jenisnya reflektor untuk fotografi bisa dibagi ke dalam 2 jenis, yaitu :
- Reflektor alamiah.
Reflektor yang terbuat dari alam yang ada di sekitar kita.
Misalnya :
pasir putih yang memantulkan cahaya matahari, pantulan cahaya matahari pada air laut,
kolam atau danau, bidang tembok putih pada sebuah bangunan.
- Reflektor buatan.
Reflektor buatan manusia yang memang sengaja dibuat untuk keperluan fotografi.
* Reflektor buatan dibagi dalam 3 jenis atau warna permukaan :
- Reflektor berwarna emas atau gold.
biasanya digunakan untuk memberikan efek warna yang lebih hangat pada skin tone
manusia atau model.
- Reflektor berwarna perak atau silver.
digunakan untuk menerangi bagian gelap pada model atau obyek dengan efek yang lebih
putih atau terang yang agak keras.
- Reflektor berwarna putih.
biasanya dibuat dari bahan styrofoam, untuk memberi efek warna putih yang
lebih lembut dan merata.
Selain lebih sering digunakan pada pemotretan outdoor tak jarang pula digunakan untuk pemotretan indoor guna menghasilkan efek tertentu. Misalnya efek 'high key' pada pemotretan ala kawan-kawan dari Taiwan.
Semoga membantu.
Sumber gambar
Senin, 06 Juni 2011
Selamat tinggal
tertatih langkahmu mengantarku ke gerbang
masih kangen tuk melepas
senyummu, lirik matamu, wangimu
selaksa nuansa perawanmu
karena perbedaan jelas terbersit
walau hanya sesekali tersirat
diantara kedip mata
tak tega menghapus
untaian yang telah terjalin
membiarkan kelak dipetik
ketika sudah memiliki
biru langitmu sendiri
bersama yang lain
Rabu, 18 Mei 2011
Esensi jalan kaki
Waktu minggu lalu setelah menyelesaikan sebuah assignment pemotretan di rumah seorang klien yang cukup berada, seorang rekan kerja sempat berpikiran bahwa untung saya bisa menumpang kendaraan rekan kami yang satu lagi sehingga tidak kehilangan gengsi jika kelihatan harus berjalan kaki keluar komplek kemudian dilanjutkan dengan naik kendaraan umum.Saya memang seorang fotografer penikmat jalan kaki, bukan karena memang belum diberi kemampuan untuk memiliki kendaraan sendiri, tapi dengan berjalan kaki selain menyehatkan saya bisa meresapi suasana sekitar, juga kadang bisa sambil berpikir sendiri mencari inspirasi. Dan ya, jika sedang ada order pemotretan juga saya mulai dengan berjalan kaki.
Seperti ketika seorang anak kecil yang tadinya hanya merangkak kemudian beranjak berjalan di atas kedua kakinya, pasti momen ini dirayakan oleh kedua orang tuanya, diumumkan ke seluruh sanak saudara, difoto lalu di share lewat Facebook agar seluruh jagad mengetahui.
Tapi kenapa sekarang jalan kaki bisa kalah gengsi dengan yang naik turun mobil pribadi, padahal kita tau bagi para orang kaya tersebut kegiatan berolahraga yang menyehatkan macam jalan kaki malah merupakan sebuah kemewahan yang mungkin hanya bisa mereka lakukan di akhir pekan. Ironis?
Menurut hemat saya, esensi dari jalan kaki itu sendiri adalah fitrah manusia yang merupakan karunia Allah agar kita dapat beraktifitas untuk memenuhi kebutuhan hidup. Selain menyehatkan, hemat dan dapat menginspirasi.
Jadi, apakah dengan berjalan kaki kita akan kehilangan gengsi di mata klien?
Biar keprofesionalan dan hasil kerja kita yang berbicara!
* Tips sehat jalan kaki, klik di sini.
Sabtu, 16 April 2011
Pungutan liar di spot fotografi
Pungutan liar di spot fotografi makin lama makin meresahkan teman-teman fotografer yang lebih sering bermain di fotografi luar ruangan atau outdoor. Khususnya yang saat ini lebih sering menangani job foto-foto prewedding outdoor.Dulu ketika orang mulai beralih ke tempat-tempat di luar studio untuk mencari suasana baru sebagai tempat foto-fotonya, mereka dan para fotografer masih leluasa untuk beraksi dan berkreasi memanfaatkan spot fotografi pilihan mereka. Tapi lama-kelamaan muncullah pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab dan memanfaatkan momentum ini sebagai ladang mendapatkan uang 'mudah' tanpa memikirkan efek negatif dari perbuatannya dengan menarik 'uang retribusi' tak resmi yang nantinya masuk kantong sendiri.
Para fotografer ini sudah ikut mempromosikan keindahan spot fotografi di suatu daerah secara tidak langsung, ketika hasil foto-foto mereka dilihat turis lokal atau manca negara serta vendor fotografi lainnya lalu ikut tertarik untuk memanfaatkannya, sudah tentu menjadi pemasukkan pendapatan yang lumayan bagi pemda setempat.
Saya lebih rela jika uang retribusi tersebut dikelola oleh pemda setempat dan digunakan kembali untuk merawat spot fotografi tadi sekalian menjadi sumber tambahan bagi uang kas daerah tersebut.
Ayo, gimana nih para pemda?
Foto : Andre Leonardo
Selasa, 15 Maret 2011
Waktu rehat
Bagi kami, kuli studio foto, waktu istirahat ini selalu kami gunakan untuk melakukan katarsis serta merestorasi bangunan imajinasi agar keindahan yang kami hasilkan di dalam studio tidak terlalu monoton layaknya seorang 'pengrajin' terhadap buah tangannya, dan bisa sedikit memberikan ledakan kreatifitas yang akan membuat ritme kerja menjadi lebih bergairah.
Kegiatan yang biasa kami lakukan sewaktu istirahat siang atau waktu rehat, diantaranya :
-Around the mall, ini karena studio kami seringnya bertempat di dalam sebuah pusat perbelanjaan. Biasanya sih kami hanya jalan-jalan sambil window shoping melihat barang-barang yang hanya bisa kami beli di dalam mimpi..he he.
-Makan siang dari katering rantangan yang kadang lauknya tidak sesuai dengan hasrat kuliner pada hari itu dan jatah nasinya yang tidak sesuai dengan kapasitas perut para kuli studio seperti kami toh harus tetap bersyukur karena masih bisa makan.
-Ikutan ngopi, merokok dan ngemplok gorengan di warung kopi yang ada di seberang mall dengan atmosfir yang lebih guyub penuh canda tawa jauh berbeda dengan mall yang penuh dengan kesan hedonisme dan kapitalis.
Begitulah sekelumit keseharian kami para kuli studio ketika waktu rehat tiba.
I really miss those days...
Jumat, 18 Februari 2011
Meredupnya pamor studio foto
Kurang tau persisnya kapan, tapi kira-kira lima tahun belakangan ini, studio-studio foto, khususnya di Jakarta, satu-persatu berguguran alias menutup usahanya. Kecuali yang memang sudah turun-temurun menjadi usaha keluarga dan sudah eksis semenjak saya masih duduk di taman kanak-kanak seperti King foto atau Tarzan foto.Mencari penyebabnya persisnya juga agak sulit. Jika ingin mengkambing hitamkan peralihan dari fotografi analog ke fotografi digital, justru banyak studio foto yang malah booming pada saat itu, studio Royal Princess contohnya. Jika ingin beralasan menurunnya kebutuhan masyarakat akan jasa fotografi juga rasanya kurang pas. Karena setiap harinya selalu ada kegiatan yang memerlukan jasa fotografi di dalam penyelenggaraannya. Dari yang hanya sebatas keperluan untuk pas foto sampai dokumentasi pernikahan, dari masyarakat kelas bawah sampai golongan kelas atas.
Dulu sewaktu saya masih aktif bekerja di studio foto, seseorang tidak segan mengeluarkan uang sampai jutaan rupiah hanya untuk satu paket foto personal saja. Sekarang mereka akan berpikir dua kali jika harus menghabiskan uang dua ratus ribuan hanya untuk sebuah sesi foto.
Walhasil orang baru akan berpikir untuk ke studio foto jika mereka memiliki acara yang memang membutuhkan foto-foto yang lebih serius sebagai sarana dokumentasinya. Misalnya; acara pernikahan, wisuda, foto keluarga, modelling, atau hanya untuk sekedar pas foto.
Kalau boleh sedikit menyimpulkan, hal ini disebabkan karena fotografi sekarang sudah lebih dekat dengan keseharian, tidak lagi eksklusif milik studio foto seperti dulu. Handphone sudah banyak yang berkamera, orang lebih suka memilih suasana outdoor untuk acara foto-foto mereka. Fotografer-fotografer freelance dengan kekuatan promosi onlinenya begitu menjamur. Studio foto yang tidak kuat modalnya dan amburadul marketingnya, dengan sendirinya akan tergulung oleh dinamisnya perubahan di jagad jasa fotografi sekarang ini.
Sumber foto
Selasa, 08 Februari 2011
Pujian kosong di Facebook
Ketika menjalani ritual pagi di dunia maya, seperti biasa saya memeriksa inbox di email utama saya. Wah, cukup banyak surat yang masuk pagi itu, tapi setelah dibuka ternyata 'hanya' dari Facebook. Lalu setelah diperiksa satu persatu isinya hanyalah pujian terhadap sebuah foto sederhana karya sahabat fotografer yang telah men-tag banyak nama teman-temannya."Mantap, gan..", "Nice shot, bro..", "Keren, Oom..", begitulah kata-kata pujian yang sering dilontarkan pada kolom komentarnya. Hanya sekedar pujian basa-basi dan mencoba bersikap sopan untuk menghargai usaha sahabat yang telah mengunggah hasil karya fotonya dan dengan harapan agar fotonya balik dikomentari lalu merasa eksis.
Pernah sekali waktu saya memberi masukkan dan kritikan tajam pada sebuah foto, tapi si empunya meminta untuk tidak mengkritik terlalu tajam karena Facebook ia gunakan juga sebagai sarana promosi bagi jasa fotografinya dan nggak enak rasanya kalau sampai dilihat oleh calon klien atau malah ada yang bernada ofensif dengan mengatakan bahwa tidak ada kewajiban bagi saya untuk mengatakan bahwa karya fotonya istimewa.
Jika menurut saya memang bagus, saya akan bilang bagus. Lalu jika ada yang ingin saya beri masukkan, maka akan saya sampaikan dengan sopan. Sungguh saya tidak merasa sudah jago atau mumpuni di bidang fotografi ini. Saya hanya merasa bahwa jaringan sosial media online semacam Facebook dapat kita manfaatkan untuk saling memberi masukkan dan kritik yang membangun demi kemajuan bersama.
Memang kritik terkadang terasa pedas, tapi daripada hanya mendapat pujian kosong yang hanya sekedar basa-basi terus menjadi sebuah kebanggaan palsu...
Bagaimana pendapat sahabat?
Kamis, 03 Februari 2011
Fotografer banting harga
Kan nggak mungkin kalo kita mau membandingkan harga jasa fotografi dari sebuah studio bridal kenamaan di Jakarta dengan harga jasanya Mang Ihin yang biasa mendokumentasikan acara sunatan atau pengantin rumahan di kampung.
Semua berpulang kepada tingkat apresiasi tiap individu terhadap bentuk seni fotografi, kebutuhan atau peruntukan dalam menggunakannya, juga kesanggupan didalam membayar daya kreatifitas yang sudah dihasilkan oleh seorang fotografer. Semua itu merupakan faktor eksternal yang menentukan berapa nominal sebuah harga jasa fotografi akan dipatok.
Sempat prihatin juga ketika membaca thread di sebuah komunitas online terbesar; ada fotografer yang menjual jasanya begitu murah. Saya hanya berpikir apa harga yang dia tawarkan tersebut dapat menutupi ongkos produksinya, bagaimana dengan kualitas hasil kerjanya. Dan biasanya alasan mereka jualan murah adalah; biar ada order yang masuk, cari pengalaman, buat nambah portfolio, mengumpulkan relasi dan lain sebagainya.
Tapi akhirnya saya sadar, bahwa masyarakat kita pasti sudah lebih pintar. Mereka lebih tau apa yang mereka butuhkan, sampai di mana kualitasnya, dan berapa mereka sanggup membayarnya. Dan setiap segmen jasa fotografi pasti mempunyai pasarnya masing-masing serta keprofesionalan didalam menjalankannya adalah di atas segalanya.
Foto : tukangpoto
Selasa, 25 Januari 2011
Hantu studio foto
Sore itu, gerimis mulai turun diterpa oleh angin sepoi yang membuat cuaca menjadi sejuk. Seperti biasanya kami para pekerja studio bercengkrama ngobrol ngalor-ngidul mengenai berbagai topik sambil sesekali diselingi oleh canda yang membuat semuanya berderai tawa. Kami bisa menikmati rehat sejenak karena tau bahwa tidak ada jadwal appointment atau klien yang janji foto sore itu di Royal Princess.Setelah usai, saya pun pamit, mencegat Metromini B-91 yang selanjutnya membawa saya menuju Roxi, daerah tempat tinggal saya. Aneh, tiba-tiba badan rasanya berat sekali, padahal hanya cuma sebentar diterpa gerimis. Ah, mungkin hanya flu biasa, besok juga sembuh. Setelah mengisi perut, minum Panadol, saya pun beristirahat.
Keesokan harinya, rasa berat di badan ini tidak juga sembuh. Rasanya aneh, suhu badan tidak panas, kepala tidak pusing, hidung tidak pilek, tapi badan ini seperti orang yang masuk angin. Inginnya rebahan terus, seperti orang yang lelah setelah bekerja seharian.
Suatu sore, setelah dua hari merasakan 'nggak enak' di badan ini, anak sulung saya Maharani, yang memang diberi kelebihan bisa melihat 'alam lain', membisiki saya bahwa ada 'wanita' yang 'nggendong' di punggung saya. Digambarkan olehnya bahwa 'wanita' itu berambut panjang menutupi wajahnya, berbaju putih, dan berkuku jari tangan panjang. Wah, pantas saja, terjawab semua tanya tentang anehnya kondisi badan ini.
Esok harinya kami menghubungi pak Ujang, tetangga kami yang memang bisa 'mengusir' atau meminta untuk pergi hal-hal seperti yang terjadi pada saya. Selesai 'penyembuhan', pak Ujang berkata bahwa 'wanita' itu tinggal di seberang studio Royal Princess, tepatnya di pohon besar yang ada di depan Alfamart. 'Wanita' itu tidak melakukan apa-apa hanya menggantung di belakang punggung saya seperti anak kecil yang digendong belakang. Mungkin ada ucapan atau tindakan saya yang tidak berkenan sehingga ia memutuskan untuk 'nggandul'.
Saya jadi teringat cerita film horror Thailand yang bernuansa fotografi, Shutter.
* Kisah ini nyata terjadi pada diri saya sewaktu bekerja di studio Royal Princess, Tanjung Duren.
Bukan mengajak sahabat untuk percaya takhyul, tapi setidaknya untuk menyadari akan
keberadaan alam lain.
Percaya atau tidak, tergantung bagaimana sahabat menyikapinya.
Foto di atas hanya sebagai ilustrasi, diambil dari sini.
Selasa, 18 Januari 2011
Tukangpoto di Koran Kontan
Padahal saya merasa masih ecek-ecek dan belum mempunyai prestasi apa-apa di bidang fotografi. Tapi karena korannya sedang menulis artikel mengenai fotografer makanan dan peluang bisnisnya, lalu kebetulan ia baca Fotografer Jurnal pernah membahas tentang pemotretan makanan, jadi ingin sekedar sharing mengenai tips dan pengalaman saya sebagai fotografer makanan.
Oh, kalo soal pengalaman sih ada walaupun masih sedikit dan mengenai tips fotografi juga mudah-mudahan bisa bermanfaat karena masih sangat sederhana dan pastinya masih kalah jauh dibanding mas-mas fotografer yang lebih profesional.
Karena Koran Kontan juga merupakan e-paper atau koran online, maka jadilah foto nyengir kuda saya nampang secara online maupun offline di Koran Kontan edisi January 17th 2011.
Terima kasih banyak kepada Mbak Oca dan Harian Kontan yang telah sudi menulis profil Tukangpoto serta para sahabat pembaca yang telah setia mengunjungi fotografer jurnal selama ini.
Bagi sahabat yang ingin baca artikelnya, klik di sini.
Foto : copyright pada Harian Kontan
Rabu, 12 Januari 2011
Fotografer karbitan
Istilah fotografer karbitan sebenarnya lebih tepat bila ditujukan kepada orang yang tadinya tidak mendalami bidang fotografi tapi karena sesuatu hal dengan terpaksa profesi 'tukang foto' mereka jalani. Sebagai contoh; seorang desainer grafis yang ditugaskan untuk mendokumentasikan sebuah acara oleh tempatnya bekerja dikarenakan ketiadaan tenaga fotografer. Dan seterusnya menjadi tugas dia jika ada hal yang menyangkut soal jepret-menjepret. Padahal hanya bermodalkan ilmu komposisi gambar, menguasai Photoshop dan tentunya menguntungkan bagi perusahaan tempat dia bekerja.Akan lebih baik bila sang 'fotografer' ini menyadari ketertinggalannya dan mulai mempelajari dasar-dasar ilmu fotografi baik secara teori maupun aplikasi sehingga lebih dapat mempertanggungjawabkan 'profesi' barunya tersebut.
Seperti contoh dalam seni lukis, seorang pelukis aliran ekspresionis almarhum Afandi ternyata sangat menguasai dasar-dasar menggambar berbagai macam obyek menggunakan medium pensil. Jadi beliau nggak asal memencet tube cat minyak dan corat-coret di atas kanvas melainkan sudah memiliki dasar-dasar untuk menjadi maestro seni lukis.
Apalagi di jaman digitalisasi seperti sekarang ini di mana segala sesuatunya jadi lebih 'dimudahkan', semangat untuk mempelajari sesuatu yang esensial harusnya tidak boleh padam.
Saya hanya ingin mengajak para sahabat untuk tidak setengah-setengah dan karbitan di dalam mencintai dan menekuni suatu bidang agar dapat lebih berhasil guna bagi kita atau mungkin malah dapat menginspirasi yang lainnya hingga hasilnya bisa lebih nyata bagi kebaikan bersama.
Selamat mencoba.
Sumber foto
Sabtu, 08 Januari 2011
Komedi putar

langit biru menggapai asa
berputar ceria menghempas angin
naik turun ayunan nina bobo
tanpa air mata hanya tawa
tanpa aral lampiaskan suka
jalan lurus pasti tak berliku
wahai masa kecil
bersemayamlah selalu di hati
Sumber foto
Selasa, 04 Januari 2011
Desain grafis dalam fotografi
Masih jelas dalam ingatan ketika saya dan teman-teman membuat variasi untuk album pernikahan pada jaman fotografi analog dulu. Lembar demi lembar foto disusun dan ditempel sesuai dengan urutan dalam acara resepsi pernikahan yang sudah kami dokumentasikan.Kadang susunan foto dalam satu halaman album dibuat condong ke kiri lalu di halaman sebelahnya gantian condong ke kanan, kadang sebuah caption foto dicetak beberapa lembar lalu disusun seperti bentuk kipas tangan. Tak lupa pada pinggir halamannya dihiasi dengan benang emas biar kesannya lebih tegas.
Desain grafis dalam fotografi benar-benar telah merubah semua itu dan jalannya dimudahkan ketika proses digitalisasi merambah seluruh aspek kehidupan kita seperti saat ini. Simbiosis mutualisme pun terjadi. Penyajian hasil pekerjaan seorang fotografer jadi lebih profesional di hadapan kliennya. Visualisasi yang dulunya hanya dapat dilakukan oleh redaksional sebuah majalah kini mampu dilakukan oleh siapapun dengan bekal kemampuan pengoperasian software digital imaging dan sebuah komputer desktop.
Desain dan tampilan seperti 'barang jadi' dapat diterapkan pada presentasi hasil pekerjaan bidang fotografi. Desain-desain album wedding menjadi lebih bervariasi dan banyak pilihan. Tentunya hal ini sangat menguntungkan pihak konsumen pengguna jasa fotografi pada umumnya karena jadi memiliki banyak opsi dalam menentukan budget dan kualitas untuk keperluan fotografinya.
Hal ini juga membuka peluang usaha bagi mereka yang memang berminat untuk menekuni bidang editing digital fotografi. Baik itu sebagai mata pencaharian utama ataupun usaha sampingan. Malah di studio foto tempat saya dulu bekerja bagian edit fotonya diisi oleh mahasiswa-mahasiswa desain grafis yang sedang magang sambil mengumpulkan komisi dari tiap lembar foto yang mereka kerjakan. Jadi outputnya benar-benar positif.
Model : Qeqe
Desain grafis : Donny
Foto : tukangpoto
Senin, 27 Desember 2010
Selamat tahun baru
SELAMAT TAHUN BARU
2011
bagi seluruh sahabat fotografer jurnal
semoga impian kita dapat tercapai
Foto : tukangpoto
Selasa, 21 Desember 2010
Disewakan ruang kelas



Disewakan ruang kelas, Meeting, Seminar, Pelatihan Hanya Rp 1.000.000,- Free LCD, OHP, Whiteboard, Standart Sound System, Lokasi di Menara MTH Jln.Haryono Kav 23 Jakarta Selatan. Berlokasi Strategis berada di jalan Protokol Jakarta dan Bebas 3 in 1.
Tarif Ruangan & fasilitas:
| Classroom Full Day ( 8 Hours ) capacity 25 pax | Rp 1.000.000 |
| Classroom Full Day ( 8 Hours ) capacity 50 pax | Rp 1.500.000 |
Fasilitas - fasilitas yang dilengkapi di dalam ruangan (Free):
1. LCD
2. Whiteboard
3. Standart Sound System & Mic
4. OHP
5. AC Central
Fasilitas Gedung, yaitu = AC Central, 4 Lift Penumpang 1 Lift Parkir 1 Lift Barang, Listrik 100% PLN dengan Backup diesel genset, CCTV, Bank BNI, Travel Agent, Musholla, Mini Market, Café, Canteen.
Hubungi kami untuk kebutuhan anda akan informasi lebih lanjut dan pemesanan.
Phone.: 021 3371 7034
Foto : tukangpoto
Minggu, 19 Desember 2010
Ume bridal mengecewakan
Namanya Ume Bridal & Photography ( dibaca yumi ) bertempat di wilayah Tanjung Duren, Jakarta Barat. Saya menyanggupinya, karena siapa tau ada pelajaran serta pengalaman baru yang nanti bakal didapat.
Selling point yang mereka tawarkan adalah pada bidang make up dan gaun pengantin yang mereka klaim lebih unggul dan menawarkan sesuatu yang baru. Tapi kalo menurut saya sih tidak terlalu istimewa lagipula euforia 'imported from Taiwan' sudah melewati masa keemasannya kecuali bagi mereka yang memang Taiwan minded.
Hari pertama masuk kerja, saya disuruh bos Taiwan berbelanja ke Carrefour untuk membeli beberapa keperluan rumah tangga. Oh, sudah lama nggak kerja serabutan, lumayanlah buat sekedar refreshing.
Menurut bos Taiwan, karyawan mereka di sana juga begitu, tidak hanya mengerjakan apa yang sudah menjadi tugas utama mereka, tapi diharapkan juga cakap untuk mengerjakan bidang tugas yang lain.
Seharusnya mereka lebih tau, mereka sedang cari makan di Indonesia dan sudah sepantasnya mengikuti cara yang sudah lazim dilakukan di sini. Usaha bridal dan studio foto membutuhkan keprofesionalan di dalam pengelolaan dan bukan dilakukan dengan karyawan yang bekerja secara multitasking sebagaimana layaknya komputer dual core.
Setelah sebulan merasakan banyak ketidaksesuaian di hati, sudah saatnya bagi saya untuk mengundurkan diri guna mencari sesuatu yang bisa lebih memberikan benefit bagi masa depan jasa fotografi saya.
* Artikel ini merupakan pandangan subyektif dari saya, jika ada sahabat yang merasa keberatan mohon disampaikan melalui kolom komentar. Terima kasih.
model : Nurhayatilah
foto : tukangpoto




