Kamis, 10 Januari 2013

Refleksi tahun baru

Kami sadar,
bahwa tahun 2012
adalah tahun yang penuh ujian dan cobaan
semua itu terjadi 
agar kita bisa 'naik kelas'
agar kita terus menjadi lebih baik
sebab tiada pilihan lain
selain untuk terus maju
dan memberikan yang terbaik bagi sesama

semoga di tahun 2013
kita dapat menorehkan 
pencapaian-pencapaian
yang lebih gemilang

Salam jepret!

Sabtu, 29 September 2012

Photoshoper

"Apa ada yang salah dengan photoshoper?"

Begitulah sebuah pertanyaan yang pernah dilontarkan oleh seorang sahabat pembaca blog ini kepada saya seolah minta ketegasan tentang keberadaan seorang photoshoper yang sering mendapat tanggapan dengan konotasi yang miring dari para fotografer senior atau khususnya dari mereka yang belajar fotografinya pada jaman fotografi analog dulu.

Menurut hemat saya, tidak ada yang salah sama sekali dari keberadaan seorang photoshoper. Photoshoper hadir karena sebuah konsekuensi dari kemajuan teknologi fotografi. Yang tadinya hanya berteknologi analog menjadi fotografi digital. Sama halnya seperti seorang teknisi cuci cetak kamar gelap atau seorang tukang tusir foto ketika fotografi masih analog.

Seorang fotografer tidak harus menjadi seorang photoshoper walaupun dalam proses menghasilkan sebuah karya foto ia menggunakan software photoshop. Begitu pula sebaliknya. Seorang photoshoper adalah mereka yang bekerja full menggunakan software photoshop, baik itu untuk merancang desain grafis, memanipulasi karya foto, menggabungkan beberapa potongan gambar menjadi sebuah image baru atau jika di sebuah studio foto mereka adalah para editor foto yang merancang tampilan sebuah album foto agar tampil ciamik. Mereka ini adalah sejatinya seorang photoshoper.

Photoshop hadir sebagai perangkat lunak pengolah foto yang mudah digunakan oleh siapa saja untuk mengoreksi karya fotonya agar dapat tampil lebih layak. Sisi positif dari kemajuan teknologi adalah kemudahan bagi siapa saja untuk melakukan suatu pekerjaan yang tadinya hanya bisa dilakukan oleh pakarnya tanpa harus menjadi ahlinya. Sebuah keadaan yang harus dapat diterima oleh semua kalangan.

Namun masih ada suara-suara sumbang yang mengatakan bahwa kemudahan memotret saat ini banyak dimanfaatkan oleh fotografer 'dadakan' yang mengambil 'jatah' mereka yang memang menggantungkan hidup dari bidang ini. Seharusnya mereka tidak perlu takut, karena kwalitas dan pengalaman adalah sesuatu yang nggak begitu saja bisa dibeli. Tiap orang dapat saja memotret dan mengambil gambar, lalu memanipulasi hasilnya, tapi tidak semua orang bisa menjadi seorang fotografer.

Gimana pendapat sahabat?







photoshoper  :
facebook.com/ Dedy Bgenx Irawan

Sabtu, 08 September 2012

Branding dengan blogging

Secara sederhana kegiatan branding dapat dikatakan sebagai kegiatan mempromosikan produk barang atau jasa yang kita jual agar produk tersebut banyak dikenal oleh masyarakat kemudian mempersuasikan agar masyarakat juga mau mempergunakan produk tersebut.

Banyak sekali cara yang dapat dilakukan oleh para produsen dalam rangka kegiatan branding ini. Dari yang paling mahal seperti memasang iklan di media massa atau televisi, bikin acara grand launching khusus, promo diskon besar-besaran sampai dengan cara yang murah namun efektif yaitu dengan cara promosi lewat sosial media.

Dan jika nantinya memang produk anda adalah produk unggulan dengan sendirinya konsumen akan merekomendasikan produk anda secara otomatis dari mulut ke mulut. Jika sudah sampai pada tahap ini hasilnya tentu sudah seperti yang diharapkan dan usaha branding anda bisa dikatakan berhasil.

Lalu bagaimana caranya agar usaha branding yang kita lakukan bisa tetap menonjol dan konsumen tetap aware dengan produk yang kita tawarkan?

Salah satu cara yang dapat kita tempuh dengan hasil yang lumayan efektif adalah dengan kegiatan blogging.Blog yang berisi artikel serba-serbi seputar produk anda ini harus terhubung akun Twitter dan Facebooknya sehingga informasi yang dikandungnya benar-benar diikuti oleh para follower sosial medianya.

Blognya bisa berisi tentang keunggulan dari produk yang kita jual, juga tentang keuntungan lebih jika konsumen menggunakan produk kita dan informasi yang menguntungkan lainnya seputar produk tersebut.Informasi ini harus terus diupdate secara berkala paling sedikit seminggu sekali agar para konsumen terus aware dengan keberadaan produk kita.

Dengan metode branding lewat blogging ini diharapkan para calon konsumen akan lebih mengenal secara pribadi lewat tulisan kita. Jika konsumen sudah mengenal dan percaya secara pribadi tentunya mereka sudah tidak ragu lagi untuk menggunakan produk yang kita tawarkan.

Setiap pertanyaan yang diajukan terhadap produk diusahakan untuk dijawab agar keingintahuan konsumen dapat terjawab yang yang berujung pada rasa percaya untuk menggunakan produk kita.

Jika anda merasa tidak mampu mengelola sendiri, baik itu blog atau artikel-artikel pengisi blog tersebut, anda bisa mendelegasikan pekerjaan ini kepada penulis lepas yang anda percaya.

Oke, selamat mencoba.



Jumat, 17 Agustus 2012

Fitri

mereka puasa Ramadhan
hari demi hari perut kami lapar
penuh suka cita berbuka
segelas air cukup mengenyangkan kami
mematut diri agar pantas menyambut fitri
sudah terpuaskan memandang etalase
bersih berseri sholat Ied
banyak koran bekas alas sholat yang bisa kami jual

ya Allah biarlah lapar dan dahaga kami
menjadi ridhoMu
ya Allah biarlah ketiadaan kami
menjadi puasa hanya untukMu

Amin

Jumat, 22 Juni 2012

Memotret dengan hati

Ketika kita melihat sebuah karya foto yang dipresentasikan secara apik dan memukau pada suatu kesempatan, dapat dipastikan sudah terbersit suatu perkiraan di hati masing-masing pemirsa yang menyaksikan hasil karya seni tersebut. Bahwa foto tersebut dihasilkan oleh seorang fotografer profesional, menggunakan kamera DSLR merk tertentu keluaran terbaru yang lengkap dengan feature yang mumpuni.

Tetapi semua perkiraan akan segala kemungkinan canggih tersebut segera terbantahkan demi melihat apa yang tertera di kolom kredit fotonya. Bahwa foto yang memukau tersebut 'hanya' dihasilkan oleh seorang pecinta fotografi amatir dengan menggunakan kamera semi otomatis non-DSLR ditambah sedikit re-komposisi kemudian menambah satu stop level brightness nya pada saat proses editing. Hanya itu, nggak lebih.

Berondongan pertanyaan pun tak kuasa dibendung oleh benak para penikmat foto tersebut, kok bisa? Apa resepnya?

Mungkin para praktisi fotografi akan ingat bagaimana waktu dulu memulai passion mereka di fotografi. Segala cara untuk membuat sebuah karya fotografi yang baik pastinya akan ditelusuri secara mendetail, tidak ada yang terlewat satu langkahpun. Bagaimana cara mengantisipasi momen yang tepat, angle atau sudut pandang yang tidak biasa, komposisi yang membuai mata, serta lighting yang dramatis. Semua itu dilakukan dengan niat yang tulus untuk membuat karya foto yang baik tanpa ada embel-embel pesan dari sponsor, permintaan klien yang cerewet dan tidak logis, atau tuntutan dapur harus ngebul.

Di jaman ketika membuat foto menjadi semakin 'mudah', di mana karya fotografi sudah bias dengan sekedar digital imaging, pada saat para fotografer lebih mementingkan kuantitas jepretan shutter release nya dan kemudian menyerahkan seluruh sentuhan estetis hasil fotonya pada saat proses editing, alangkah eloknya jika kita para penikmat dan pecinta karya fotografi dapat mengembalikan harkat fotografi pada 'porsi' nya demi kebaikan dunia fotografi itu sendiri.

Jujur saya akui tidak mudah untuk menepis kemudahan dan kenikmatan yang ditawarkan oleh fotografi digital. Tapi sebaiknya para fotograferlah yang kembali pegang kendali, bukan gadget digital canggih ataupun software editing yang mumpuni kemampuan memanipulasinya. Kita persilahkan pada kepekaan rasa para fotografer yang menjadi raja. Biarkan hati mereka yang berbicara, biarkan mereka kembali memotret dengan hati.

Selasa, 29 Mei 2012

Manajemen studio foto

Sudah bukan menjadi rahasia lagi bahwa manajemen yang diterapkan oleh banyak studio-studio foto di Indonesia adalah manajemen bisnis keluarga. Dari studio foto di sebuah kota kecil sampai yang sudah mempunyai 'nama' secara nasional sekalipun. Hal ini terutama disebabkan karena saham kepemilikan sebuah studio foto biasanya dimiliki oleh perorangan atau keluarga. Lalu jumlah karyawan pada sebuah studio foto paling banyak hanya mencapai puluhan dan jarang yang mencapai ratusan.

Walaupun begitu ada beberapa studio foto yang peduli pada kesejahteraan karyawannya. Biasanya dengan cara karyawan diperbolehkan meminjam dana untuk keperluan keluarga, misalnya; biaya kelahiran anak, biaya menyekolahkan anak atau dengan cara mendaftarkan karyawan mereka untuk ikut JAMSOSTEK, sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Tapi biasanya hal ini berlaku pada studio foto yang sudah mapan manajemen keuangannya, karena pada kenyataannya lebih banyak yang tidak terlalu peduli pada kesejahteraan karyawan mengingat skala manajemen usaha mereka tadi.

Dengan jumlah karyawan yang tidak terlalu besar, keadaan ini juga bisa memudahkan si pemilik studio untuk memantau kelebihan, kekurangan serta prestasi tiap karyawannya. Tapi kekurangannya adalah penilaian terhadap kinerja karyawan di sini bisa menjadi sangat subyektif karena biasanya sudah bias dengan unsur 'suka' atau 'tidak suka' secara pribadi.

Kemudian adanya fakta bahwa kebanyakan studio foto adalah bisnis sampingan dari para pemiliknya merupakan faktor penentu bagaimana manajemen sebuah studio foto akan dijalankan. Tentunya manajemen sebuah bisnis sampingan akan sangat berbeda dengan manajemen bisnis utama yang memang menjadi tumpuan hidup dari sang pemilik. Hal ini sedikit banyak harus menjadi bahan pertimbangan bagi para calon karyawan untuk tidak berekspektasi terlalu besar jika ingin bekerja di sebuah studio foto. Apalagi di sebuah studio foto yang tidak berprospek atau sepi pelanggan, yang biasanya hanya akan dipertahankan antara satu sampai dua tahun beroperasi, setelah itu wallahualam.

Tetapi selalu ada sisi positif dari tiap keadaan, kita bisa mengambil pelajaran dari bagaimana sebuah studio foto dijalankan. Banyak ilmu dan pengalaman yang sangat berharga yang bisa dipetik dan diterapkan pada bisnis fotografi milik kita sendiri nantinya.

Minggu, 29 April 2012

Jasa fotografi fotografer makanan

Ketika memutuskan untuk memasarkan jasa fotografi lewat media internet, kami tidak pernah mengkhususkan diri untuk hanya menerima order memotret makanan. Order memotret produk, fashion atau company profile pun akan kami kerjakan jika kami merasa mampu mengerjakannya dengan baik, kenapa tidak? Toh rejeki nggak boleh ditolak :)

Tapi entah kenapa semakin ke sini kami malah lebih dikenal sebagai fotografer makanan. Mungkinkah karena sering mendisplay foto-foto makanan di blog dan iklan online kami, atau karena faktor lain. Apapun itu selama memberikan feedback yang positif bagi usaha jasa kami tentunya nggak jadi masalah.

Jika para sahabat mau menyempatkan diri untuk mengetikkan kata kunci 'fotografer makanan' di Google.co.id, dari situ akan terlihat betapa banyaknya para pemain yang menyediakan jasa memotret makanan. Foto makanan yang dulu hanya menjadi pelengkap visual dari rubrik resep kuliner pada majalah wanita sekarang telah menjadi salah satu elemen penting bagi strategi pemasaran bisnis atau usaha yang melibatkan makanan sebagai menu utamanya, karena pencitraan atau imej visual sangat penting untuk memikat hati konsumen yang menjadi target usaha kuliner tersebut.

Hal ini tentunya menjadi sesuatu yang positif bagi mereka yang menekuni bisnis jasa fotografer makanan. Berlomba-lomba mereka akan memberikan yang terbaik bagi kliennya. Pada akhirnya, kedua belah pihaklah yang akan diuntungkan dengan keadaan ini.


kredit foto  :


foto dan penata saji  :  tukangpoto
digital imaging          :  Andre Leonardo