Selasa, 29 Mei 2012

Manajemen studio foto

Sudah bukan menjadi rahasia lagi bahwa manajemen yang diterapkan oleh banyak studio-studio foto di Indonesia adalah manajemen bisnis keluarga. Dari studio foto di sebuah kota kecil sampai yang sudah mempunyai 'nama' secara nasional sekalipun. Hal ini terutama disebabkan karena saham kepemilikan sebuah studio foto biasanya dimiliki oleh perorangan atau keluarga. Lalu jumlah karyawan pada sebuah studio foto paling banyak hanya mencapai puluhan dan jarang yang mencapai ratusan.

Walaupun begitu ada beberapa studio foto yang peduli pada kesejahteraan karyawannya. Biasanya dengan cara karyawan diperbolehkan meminjam dana untuk keperluan keluarga, misalnya; biaya kelahiran anak, biaya menyekolahkan anak atau dengan cara mendaftarkan karyawan mereka untuk ikut JAMSOSTEK, sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Tapi biasanya hal ini berlaku pada studio foto yang sudah mapan manajemen keuangannya, karena pada kenyataannya lebih banyak yang tidak terlalu peduli pada kesejahteraan karyawan mengingat skala manajemen usaha mereka tadi.

Dengan jumlah karyawan yang tidak terlalu besar, keadaan ini juga bisa memudahkan si pemilik studio untuk memantau kelebihan, kekurangan serta prestasi tiap karyawannya. Tapi kekurangannya adalah penilaian terhadap kinerja karyawan di sini bisa menjadi sangat subyektif karena biasanya sudah bias dengan unsur 'suka' atau 'tidak suka' secara pribadi.

Kemudian adanya fakta bahwa kebanyakan studio foto adalah bisnis sampingan dari para pemiliknya merupakan faktor penentu bagaimana manajemen sebuah studio foto akan dijalankan. Tentunya manajemen sebuah bisnis sampingan akan sangat berbeda dengan manajemen bisnis utama yang memang menjadi tumpuan hidup dari sang pemilik. Hal ini sedikit banyak harus menjadi bahan pertimbangan bagi para calon karyawan untuk tidak berekspektasi terlalu besar jika ingin bekerja di sebuah studio foto. Apalagi di sebuah studio foto yang tidak berprospek atau sepi pelanggan, yang biasanya hanya akan dipertahankan antara satu sampai dua tahun beroperasi, setelah itu wallahualam.

Tetapi selalu ada sisi positif dari tiap keadaan, kita bisa mengambil pelajaran dari bagaimana sebuah studio foto dijalankan. Banyak ilmu dan pengalaman yang sangat berharga yang bisa dipetik dan diterapkan pada bisnis fotografi milik kita sendiri nantinya.

8 comments:

Lestari News mengatakan...

informasi yang bagus dan bermanfaat. studio foto juga harus dimanajemeni dengan baik

Pakde Cholik mengatakan...

Karyawan seyogyanya dianggap sebagai keluarga agar lebih sip.
Trims tipsnya mas
Salam hangat dari Surabaya

L.al mengatakan...

perpect! luar biasa pak jangan lelah tuk berbagi ilmu nya GBU~~

tukangpoto mengatakan...

makasih, Lishan :)

Mr.odoy mengatakan...

ikut nyimak artikelnya.,.,., thanks, salam kenal

Explore IPTEK mengatakan...

Banyak pengetahuan dan informasi yang saya dapatkan dari situs Anda, terutama yang saya baca saat ini tentang studio foto, kalau saya usaha cetak foto juga tapi kelas lokal pake printer biasa epson dan belum nyoba motret langsung ditempat hehe, sepertinya saya harus banyak belajar, terima kasih dan salam persahabatan.

UII Official mengatakan...

I would like to thank you for the efforts you have made in writing this article
nice post, that's very interesting information thanks for sharing :)
I introduce a Economics student in Islamic University of Indonesia Yogyakarta

neta mengatakan...

naiz info gan....harus bisa maintain sgala usaha dengan baik