Jumat, 20 November 2009

Fotografer, sebuah intermezzo

Sebagai seorang fotografer, tidak setiap harinya saya melakukan tugas dari seorang juru potret. Kadang jika jadwal pemotretan studio benar-benar kosong, saya suka bingung mau melakukan apa. Bersih-bersih studio sudah, membersihkan kamera beserta peralatan fotografi lainnya sudah dilakukan. Untungnya studio tempat saya bekerja dulu berada di dalam sebuah mall.

Sebuah mall merupakan sumber referensi maupun inspirasi yang tidak ada habisnya bagi seorang fotografer yang selalu haus akan rangsangan imajinasi visual. Indra penglihatan kita akan terpuaskan dengan melihat berbagai bentuk desain showcase dari sebuah outlet, berbagai macam foto-foto display, penampilan para pengunjungnya yang modis dan toko buku. Sebagai seorang pembaca, keberadaan toko buku ini bagai sebuah oase di padang gurun, walaupun kadang hanya numpang baca, yang penting ada inputan yang masuk mengenai hal-hal yang baru.

Suatu hari, ketika jadwal pemotretan sedang kosong, saya memutuskan untuk menjadi asisten dari aktifitas office boy kami; Wawan Alwani, yang sekarang sudah sukses dengan bisnis DBS nya, seharian itu. Setelah minta ijin pada bagian customer service, maka dimulailah petualangan 'around the mall' kami. Membayar rekening listrik di kantor administrasi mall, membelikan jajan pesanan anak-anak studio, menelusuri ' jalan-jalan tikus ' di dalam mall yang sebelumnya tidak saya ketahui, mengantarkan paket foto milik klien yang sudah selesai ke apartemen di atas, malah kami sempat diberi uang ' lelah ' alias tip. Lumayan.

Fotografer bagi saya hanya sebatas jabatan di studio, kebersamaan dan kekompakkan dengan rekan kerja itulah yang lebih penting. Sebab sehari-harinya dengan merekalah kita saling bekerja sama bahu-membahu dalam mencari nafkah.



Foto : Andre Leonardo

14 comments:

Wempi mengatakan...

sip... ada juga loh fotografer yang memandang profesinya adalah bergengsi. mantap kalo Oom (entah siapa namanya) tidak mengkastakan profesi, salut.

NumB3R mengatakan...

betul banget kang
profesi hanya profesi, kebersamaan dengan rekan memang lebih penting.

semoga sukses selalu kang :).

oh iya, ada award lg buat sampean :D

Anonim mengatakan...

selain tentang fotography saya juga belajar bagaimana menjadi sabar dan tidak sombong. Blog nya adem banget

tukangpoto mengatakan...

Wempi : terima kasih ,oom Wempi.

NumB3R : terima kasih atas dukungannya, kang. Awardnya nanti saya ambil soalnya yang kemaren aja belum sempat..hehe.

Anonim : oya makasih,ya.

guskar mengatakan...

dari pergaulan dng teman2 akan merefresh fikiran kita, bahkan tidak sengaja kita temukan ide2 brilian yg terlontar di saat obrolan santai dng mereka. apalagi kita punya profesi yg dituntut untuk sll kreatif dan ada inovasi baru :P

tukangpoto mengatakan...

Salah satu poinnya di situ mas Gus.

Saung Web mengatakan...

Betul sekali tuh sobat.. nilai2 kebersamaan ditempat kerja itu akan membuatr kita kerasan. dan karena kita kerasan dan nyaman maka prestasipun akan menyusul... semoga ya...

tukangpoto mengatakan...

Akur,kang cuma karena teman-temannya aja saya jadi kerasan.

belajar blog mengatakan...

wah emang apartemen ama mall-nya nyambung yah

Action Figure Toy mengatakan...

kalo studio ada didalam mall, enak dunk mas
liat mbak spg nan bening, bisa minta dipoto ^0^

bundadontworry mengatakan...

justru kekompakan dgn rekan kerja yg membuat kita bisa betah dan kadang2 juga mendapatkan inspirasi dr obrolan bersama mereka.
sukses terus ya Mas.
Salam.

tukangpoto mengatakan...

belajar blog :iya mas nyambung.

AFT : Jadi sudah terbiasa,mas..hehe.

bundadontworry : itu benar bunda,terima kasih.

zulham mengatakan...

Benar Mas, saya sangat suka dengan paragraf terakhir... kebersamaan sangat penting...

tukangpoto mengatakan...

sama, bang Zulham.