Senin, 14 Desember 2009

Fotografi bukan mie instan

Artikel ini adalah sebuah cerita lucu tentang Pakde saya yang mencoba menguasai fotografi hanya dalam waktu satu malam.

Waktu itu Pakde sekeluarga menginap di rumah kami karena akan menghadiri acara pelantikan Taruna AKABRI di Istana Negara, sementara rumahnya Pakde sendiri berada di Bandung. Betapa gembiranya Pakde karena anaknya ada yang mengikuti jejaknya menjadi anggota angkatan bersenjata. Kami sekeluarga memang memiliki darah veteran mengalir dalam tubuh kami.

Sehari sebelum pelantikan, datang lagi kerabat kami yang lain sambil membawa kamera SLR analog berlensa tele dan menyarankan agar Pakde menggunakan kamera tersebut untuk memotret acara pelantikan anaknya besok. Jadilah Pakde diajari cara menggunakan kamera tersebut melalui metode SKS ( Sistem Kebut Semalam ). Saya sendiri yang waktu itu belum mendalami fotografi sangsi apakah Pakde bisa menjalankan tugas tersebut.

Esoknya, pagi-pagi kami serombongan sudah tiba di Istana Negara. Hanya kedua orang tua Taruna AKABRI yang akan dilantik yang diperbolehkan masuk. Dengan gagah sambil mencangklong kamera SLR telefoto, Pakde dan Bude masuk ke dalam istana. Kami, para sanak saudara menunggu di pelataran MONAS sambil leyeh-leyeh melepaskan penat. Setelah acara pelantikan usai, kamipun diperkenankan masuk melalui sisi istana untuk acara ramah tamah dan foto-foto. Kami juga membawa kamera saku yang dipergunakan untuk dokumentasi keluarga.

Sesampai di rumah, kamera dibawa ke tukang cuci cetak untuk diproses. Betapa kagetnya kami ketika diberitahu bahwa filmnya blank, belum terpakai. Menurut analisa tukang cuci cetak ada kemungkinan filmnya ' tidak nyangkut '. Dari sini saya jadi belajar bahwa jika ingin memperoleh hasil yang baik, semua harus dijalani melalui proses. Tidak bisa instan seperti kita membuat mie instan, tinggal rebus lalu nikmati.



Sumber gambar

39 comments:

alamendah mengatakan...

(maaf) izin mengamankan PERTAMA dulu. Boleh kan?!
saya kisah yang nyaris sama. Bahkan saya pelaku utamanya. Tapi udah lama, saat saya masih di bangku SMA

Action Figure Toy mengatakan...

bener tuh mas
makanya fotografi merupakn ilmu photo, bener ga mas..?
jempret sana jempret sini
tapi kalo kita kurang piawai jadinya biasa

Badruz mengatakan...

ha..ha.., kasihan sekali mas. hatinya pasti mbdedegel banget tuuh. memang betul mas, butuh ketelitian dan kesabaran, terburu-buru bisa berakibat fatal.....

tukangpoto mengatakan...

alamendah : jadi udah tau dong rasanya...

Action Figure Toy : memang harus mau susah dulu kalo mau dapet yang bagus.

Badruz : sudah hukum alamnya begitu kali,mas.

akubunda mengatakan...

utk mendapatkan skill memang perlu proses mas, dan ga kalah penting mesti punya Sense of Photography....

Blogwalking, salam kenal..

tukangpoto mengatakan...

salam kenal juga dan salam jepret!

Rita Susanti mengatakan...

Wah sangat disayangkan yah. Sebuah momen yang sangat berharga saya fikir...Tapi yah memang persiapan yang kurang biasanya hasilnya juga minim:P

guskar mengatakan...

di jaman sekarang telah banyak kamera tinggal pake, bagi sebagian orang bahkan dengan stel yakin tanpa membaca manual-booknya langsung jeprat-jepret. dan hasilnya bisa dpt diduga, foto yg dihasilkan sangat biasa2 saja.
fotografi adalah seni, dan itu harus dipelajari dng tekun dan sungguh2..

Saung Web mengatakan...

Waduh.. hawatos teuing eta si emang sareng si bibi.. pan itu acara yang sangat sakral n sekali seumur hidup lur... ternyata kita sama ya ada titisan darah pejuang.. selamat aja tuh sama calon jendralnya ??

tukangpoto mengatakan...

Rita Susanti : jadinya sudah begitu apa mau di kata,mbak.

Guskar : kesungguhan membuahkan kesuksesan,kang.

SaungWeb : nanti saya sampaikan salamnya kang ,hatur nuhun.

wempi mengatakan...

jadi teringat waktu berkemah. rol filmnya baru jalan 5 photo. sewaktu mau menggulung nyangkut, dipaksa. sewaktu nyetak, negatif filmnya ternyata dah robek-robek.

tukangpoto mengatakan...

Memang seperti itulah kita pada waktu remaja dulu, hajar bleh..

H mengatakan...

satu kata: coba bisa di replay :D

tukangpoto mengatakan...

There is no turning back, bro..hehe.

Berita unik mengatakan...

tapi kalo saya potoin cewe pasti ga bakal nge-blank smua
pasti hasilnya bening-bening
ehehehhe...

arkasala mengatakan...

Saya setuju sekali semua hasil harus melalui proses termasuk photografi. Bahkan mie instan pun perlu proses untuk mematangkannya. Bukan begitu Kang ?

tukangpoto mengatakan...

Leres,kang. Sayangnya banyak sekarang orang -orang yang suka mengabaikan proses.

isnuansa mengatakan...

Whua.... Gara-gara fotonya ngeblank, kesedihannya nggak mungkin bisa terbayar, soalnya moment nggak bisa diulang....

Saya juga pernah ngalamin. *jadi malu*

tukangpoto mengatakan...

Kayaknya kita yang mengalami jaman fotografi analog pasti pernah memiliki pengalaman yang serupa deh..hehe.

bundadontworry mengatakan...

memang utk mendapatkan keahlian harus melalui proses ya Mas.
tapi, kasihan juga, kebayang gimana kecewanya Pakde.
salam.

NURA mengatakan...

salam sobat
ya iyalah ,,masa mie instan,,sih,,
fotografi tuh ngga sembarangan ilmunya,,harus bisa menampilkan semaksimal mungkin gambarnya dan maknanya.

Khery Sudeska mengatakan...

Hehehe... Betul, Mas. Tapi bukan pelajaran buat Mas saja. Kita2 juga dapat pelajaran berharga dari kejadian tsb. :)

tukangpoto mengatakan...

bundadontworry : oh iya bunda itu betul.

NURA : benar mbak Nura,tapi setiap orang bisa mempelajarinya kok, bukan ilmu yang eksklusif.

Khery Sudeska : iya semoga kita bisa menarik pelajaran darinya.

Pecinta Kuliner mengatakan...

emang enaknya sih make kamera digital, tapi suka sebel juga kalo tiba2 batere nya ngedrop hihihi..

Salam kenal mas tukang potho.. :D

zipoer7 mengatakan...

Salam Takzim
Foto akan menghasilkan sebuah Album cerita yang identik dengan buku, semua hasil foto yang terekam bisa baik apabila ditangani oleh ahlinya.
Terima kasih sahabat sudah mampir ke blogku, semoga persahabatan ini abadi
Salam Takzim Batavusqu

Deny Deyn mengatakan...

waw, padahal niatnya pingin cepet.. agar cepet bisa makainya
hahha oke oke.. seklai lagi harus nunggu punya kamera heheh

tukangpoto mengatakan...

Pecinta Kuliner : kalo kamera digital emang lebih enak kalo pake batere charge.

zipoer7 : foto album akan lebih berkesan jika fotonya bisa lebih bercerita.

Deny Deyn : pengetahuannya dulu kan nggak pa-pa..hehe.

Belajar Blog mengatakan...

Hmm...
susah juga yah
kasian nda bisa abadikan momen2 bahagia

mandor tempe mengatakan...

tetep saja seperti sebuah alat. Alaat yang biasa namun orang yang memakainya luar biasa akan emnjadi hasil yang luar biasa pula

tukangpoto mengatakan...

Belajar Blog : untung bawa back up kamera saku.

mandor tempe : alat memang tinggal alat,yang berperan yang memakainya.

nakjaDimande mengatakan...

hehhhe, lagian Pakde nekad juga bawa kamera canggih. apakah pengalaman pakde itu yang membuat didit bertekad untuk mendalami seni fotografi? :D

tukangpoto mengatakan...

Ya, ikut menginspirasi juga sih bundo disamping hal lainnya.

morishige mengatakan...

lagian, pakdhenya ngapain sampe dikasih pinjam kamera canggih, paman? :D hehehe.. :D

tukangpoto mengatakan...

Maksudnya biar dapat momen yang bagus,tapi apa lacur..

Aditya's Blogsphere mengatakan...

saya suka dengan dunia fotografi......berbagai pemandangan unik bahkan untuk seekor lalat di tumpukan sampah bisa jadi gambar yang penuh artistik.......itulah fotografi menurut saya......apapun yang di foto...merupakan karya seni yang luar biasa....apalagi klo sudut pemotretanya pas.....

tukangpoto mengatakan...

Oh iya ,Dit semua kalau digarap dengan sungguh-sungguh akan menghasilkan sebuah masterpiece.

Suarakelana mengatakan...

kesadaran yang bagus biar gak grasa-grusu, sanes kitu ?

tukangpoto mengatakan...

Leres atuh kang,hatur nuhun ah.

Yagi mengatakan...

sekarang juga banyak orang-orang yang nenteng SLR tapi ketika ditanya fiturnya sama gimana pake manualnya pada gabisa, mereka lebih sering main di P ( Program ) sama Auto, cuma agak gaya aja sih nenteng" atau berkalung SLR :D