Selasa, 25 Januari 2011

Hantu studio foto

Sore itu, gerimis mulai turun diterpa oleh angin sepoi yang membuat cuaca menjadi sejuk. Seperti biasanya kami para pekerja studio bercengkrama ngobrol ngalor-ngidul mengenai berbagai topik sambil sesekali diselingi oleh canda yang membuat semuanya berderai tawa. Kami bisa menikmati rehat sejenak karena tau bahwa tidak ada jadwal appointment atau klien yang janji foto sore itu di Royal Princess.

Setelah usai, saya pun pamit, mencegat Metromini B-91 yang selanjutnya membawa saya menuju Roxi, daerah tempat tinggal saya. Aneh, tiba-tiba badan rasanya berat sekali, padahal hanya cuma sebentar diterpa gerimis. Ah, mungkin hanya flu biasa, besok juga sembuh. Setelah mengisi perut, minum Panadol, saya pun beristirahat.

Keesokan harinya, rasa berat di badan ini tidak juga sembuh. Rasanya aneh, suhu badan tidak panas, kepala tidak pusing, hidung tidak pilek, tapi badan ini seperti orang yang masuk angin. Inginnya rebahan terus, seperti orang yang lelah setelah bekerja seharian.

Suatu sore, setelah dua hari merasakan 'nggak enak' di badan ini, anak sulung saya Maharani, yang memang diberi kelebihan bisa melihat 'alam lain', membisiki saya bahwa ada 'wanita' yang 'nggendong' di punggung saya. Digambarkan olehnya bahwa 'wanita' itu berambut panjang menutupi wajahnya, berbaju putih, dan berkuku jari tangan panjang. Wah, pantas saja, terjawab semua tanya tentang anehnya kondisi badan ini.

Esok harinya kami menghubungi pak Ujang, tetangga kami yang memang bisa 'mengusir' atau meminta untuk pergi hal-hal seperti yang terjadi pada saya. Selesai 'penyembuhan', pak Ujang berkata bahwa 'wanita' itu tinggal di seberang studio Royal Princess, tepatnya di pohon besar yang ada di depan Alfamart. 'Wanita' itu tidak melakukan apa-apa hanya menggantung di belakang punggung saya seperti anak kecil yang digendong belakang. Mungkin ada ucapan atau tindakan saya yang tidak berkenan sehingga ia memutuskan untuk 'nggandul'.

Saya jadi teringat cerita film horror Thailand yang bernuansa fotografi, Shutter.



* Kisah ini nyata terjadi pada diri saya sewaktu bekerja di studio Royal Princess, Tanjung Duren.
Bukan mengajak sahabat untuk percaya takhyul, tapi setidaknya untuk menyadari akan
keberadaan alam lain.
Percaya atau tidak, tergantung bagaimana sahabat menyikapinya.


Foto di atas hanya sebagai ilustrasi, diambil dari sini.

Selasa, 18 Januari 2011

Tukangpoto di Koran Kontan

Sabtu sore kemarin, ketika sedang browsing cari ide untuk update blog, ada telpon masuk dari Mbak Oca; wartawan koran Kontan. Mbak Oca mengkonfirmasi ingin mewawancarai Tukangpoto melalui sambungan telepon jika bersedia.

Padahal saya merasa masih ecek-ecek dan belum mempunyai prestasi apa-apa di bidang fotografi. Tapi karena korannya sedang menulis artikel mengenai fotografer makanan dan peluang bisnisnya, lalu kebetulan ia baca Fotografer Jurnal pernah membahas tentang pemotretan makanan, jadi ingin sekedar sharing mengenai tips dan pengalaman saya sebagai fotografer makanan.

Oh, kalo soal pengalaman sih ada walaupun masih sedikit dan mengenai tips fotografi juga mudah-mudahan bisa bermanfaat karena masih sangat sederhana dan pastinya masih kalah jauh dibanding mas-mas fotografer yang lebih profesional.

Karena Koran Kontan juga merupakan e-paper atau koran online, maka jadilah foto nyengir kuda saya nampang secara online maupun offline di Koran Kontan edisi January 17th 2011.

Terima kasih banyak kepada Mbak Oca dan Harian Kontan yang telah sudi menulis profil Tukangpoto serta para sahabat pembaca yang telah setia mengunjungi fotografer jurnal selama ini.

Bagi sahabat yang ingin baca artikelnya, klik di sini.


Foto : copyright pada Harian Kontan

Rabu, 12 Januari 2011

Fotografer karbitan

Istilah fotografer karbitan sebenarnya lebih tepat bila ditujukan kepada orang yang tadinya tidak mendalami bidang fotografi tapi karena sesuatu hal dengan terpaksa profesi 'tukang foto' mereka jalani. Sebagai contoh; seorang desainer grafis yang ditugaskan untuk mendokumentasikan sebuah acara oleh tempatnya bekerja dikarenakan ketiadaan tenaga fotografer. Dan seterusnya menjadi tugas dia jika ada hal yang menyangkut soal jepret-menjepret. Padahal hanya bermodalkan ilmu komposisi gambar, menguasai Photoshop dan tentunya menguntungkan bagi perusahaan tempat dia bekerja.

Akan lebih baik bila sang 'fotografer' ini menyadari ketertinggalannya dan mulai mempelajari dasar-dasar ilmu fotografi baik secara teori maupun aplikasi sehingga lebih dapat mempertanggungjawabkan 'profesi' barunya tersebut.

Seperti contoh dalam seni lukis, seorang pelukis aliran ekspresionis almarhum Afandi ternyata sangat menguasai dasar-dasar menggambar berbagai macam obyek menggunakan medium pensil. Jadi beliau nggak asal memencet tube cat minyak dan corat-coret di atas kanvas melainkan sudah memiliki dasar-dasar untuk menjadi maestro seni lukis.

Apalagi di jaman digitalisasi seperti sekarang ini di mana segala sesuatunya jadi lebih 'dimudahkan', semangat untuk mempelajari sesuatu yang esensial harusnya tidak boleh padam.

Saya hanya ingin mengajak para sahabat untuk tidak setengah-setengah dan karbitan di dalam mencintai dan menekuni suatu bidang agar dapat lebih berhasil guna bagi kita atau mungkin malah dapat menginspirasi yang lainnya hingga hasilnya bisa lebih nyata bagi kebaikan bersama.

Selamat mencoba.


Sumber foto

Sabtu, 08 Januari 2011

Komedi putar



langit biru menggapai asa
berputar ceria menghempas angin
naik turun ayunan nina bobo
tanpa air mata hanya tawa
tanpa aral lampiaskan suka
jalan lurus pasti tak berliku
wahai masa kecil
bersemayamlah selalu di hati



Sumber foto

Selasa, 04 Januari 2011

Desain grafis dalam fotografi

Masih jelas dalam ingatan ketika saya dan teman-teman membuat variasi untuk album pernikahan pada jaman fotografi analog dulu. Lembar demi lembar foto disusun dan ditempel sesuai dengan urutan dalam acara resepsi pernikahan yang sudah kami dokumentasikan.

Kadang susunan foto dalam satu halaman album dibuat condong ke kiri lalu di halaman sebelahnya gantian condong ke kanan, kadang sebuah caption foto dicetak beberapa lembar lalu disusun seperti bentuk kipas tangan. Tak lupa pada pinggir halamannya dihiasi dengan benang emas biar kesannya lebih tegas.

Desain grafis dalam fotografi benar-benar telah merubah semua itu dan jalannya dimudahkan ketika proses digitalisasi merambah seluruh aspek kehidupan kita seperti saat ini. Simbiosis mutualisme pun terjadi. Penyajian hasil pekerjaan seorang fotografer jadi lebih profesional di hadapan kliennya. Visualisasi yang dulunya hanya dapat dilakukan oleh redaksional sebuah majalah kini mampu dilakukan oleh siapapun dengan bekal kemampuan pengoperasian software digital imaging dan sebuah komputer desktop.

Desain dan tampilan seperti 'barang jadi' dapat diterapkan pada presentasi hasil pekerjaan bidang fotografi. Desain-desain album wedding menjadi lebih bervariasi dan banyak pilihan. Tentunya hal ini sangat menguntungkan pihak konsumen pengguna jasa fotografi pada umumnya karena jadi memiliki banyak opsi dalam menentukan budget dan kualitas untuk keperluan fotografinya.

Hal ini juga membuka peluang usaha bagi mereka yang memang berminat untuk menekuni bidang editing digital fotografi. Baik itu sebagai mata pencaharian utama ataupun usaha sampingan. Malah di studio foto tempat saya dulu bekerja bagian edit fotonya diisi oleh mahasiswa-mahasiswa desain grafis yang sedang magang sambil mengumpulkan komisi dari tiap lembar foto yang mereka kerjakan. Jadi outputnya benar-benar positif.


Model : Qeqe
Desain grafis : Donny
Foto : tukangpoto

Senin, 27 Desember 2010

Selamat tahun baru


SELAMAT TAHUN BARU
2011
bagi seluruh sahabat fotografer jurnal
semoga impian kita dapat tercapai



Foto : tukangpoto

Selasa, 21 Desember 2010

Disewakan ruang kelas




Disewakan ruang kelas, Meeting, Seminar, Pelatihan Hanya Rp 1.000.000,- Free LCD, OHP, Whiteboard, Standart Sound System, Lokasi di Menara MTH Jln.Haryono Kav 23 Jakarta Selatan. Berlokasi Strategis berada di jalan Protokol Jakarta dan Bebas 3 in 1.

Tarif Ruangan & fasilitas:

Classroom Full Day ( 8 Hours ) capacity 25 pax

Rp 1.000.000

Classroom Full Day ( 8 Hours ) capacity 50 pax

Rp 1.500.000


Fasilitas - fasilitas yang dilengkapi di dalam ruangan (Free):
1. LCD

2. Whiteboard

3. Standart Sound System & Mic

4. OHP

5. AC Central

Fasilitas Gedung, yaitu = AC Central, 4 Lift Penumpang 1 Lift Parkir 1 Lift Barang, Listrik 100% PLN dengan Backup diesel genset, CCTV, Bank BNI, Travel Agent, Musholla, Mini Market, Café, Canteen.

Hubungi kami untuk kebutuhan anda akan informasi lebih lanjut dan pemesanan.
Phone.: 021 3371 7034


Foto : tukangpoto


Minggu, 19 Desember 2010

Ume bridal mengecewakan

Sebulan kemarin saya diminta oleh mantan bos untuk membantu dia dalam mengurusi bagian studio foto hasil kerjasamanya dengan orang Taiwan yang ingin membuka usaha di bidang jasa bridal dan fotografi di Indonesia.

Namanya Ume Bridal & Photography ( dibaca yumi ) bertempat di wilayah Tanjung Duren, Jakarta Barat. Saya menyanggupinya, karena siapa tau ada pelajaran serta pengalaman baru yang nanti bakal didapat.

Selling point yang mereka tawarkan adalah pada bidang make up dan gaun pengantin yang mereka klaim lebih unggul dan menawarkan sesuatu yang baru. Tapi kalo menurut saya sih tidak terlalu istimewa lagipula euforia 'imported from Taiwan' sudah melewati masa keemasannya kecuali bagi mereka yang memang Taiwan minded.

Hari pertama masuk kerja, saya disuruh bos Taiwan berbelanja ke Carrefour untuk membeli beberapa keperluan rumah tangga. Oh, sudah lama nggak kerja serabutan, lumayanlah buat sekedar refreshing.

Menurut bos Taiwan, karyawan mereka di sana juga begitu, tidak hanya mengerjakan apa yang sudah menjadi tugas utama mereka, tapi diharapkan juga cakap untuk mengerjakan bidang tugas yang lain.

Seharusnya mereka lebih tau, mereka sedang cari makan di Indonesia dan sudah sepantasnya mengikuti cara yang sudah lazim dilakukan di sini. Usaha bridal dan studio foto membutuhkan keprofesionalan di dalam pengelolaan dan bukan dilakukan dengan karyawan yang bekerja secara multitasking sebagaimana layaknya komputer dual core.

Setelah sebulan merasakan banyak ketidaksesuaian di hati, sudah saatnya bagi saya untuk mengundurkan diri guna mencari sesuatu yang bisa lebih memberikan benefit bagi masa depan jasa fotografi saya.


* Artikel ini merupakan pandangan subyektif dari saya, jika ada sahabat yang merasa keberatan mohon disampaikan melalui kolom komentar. Terima kasih.


model : Nurhayatilah
foto : tukangpoto

Selasa, 14 Desember 2010

Dreamer

Sometimes fantasy

can be more powerfull

than reality

So guys,

keep your dream alive!

Minggu, 12 Desember 2010

Pasrah

Ya Allah..

kami kembali lagi kepada titik ketiadaan

walau doa dan ikhtiar tak henti kami lakukan

kehendakMulah yang terjadi

amin

Senin, 01 November 2010

Kualitas jasa fotografi

"Kok jasa fotografinya mahal sih, pak?"

Sebuah kalimat pertanyaan yang sering didengar oleh telinga para fotografer yang menggantungkan hidupnya dari jasa potret-memotret, sehingga berulang kali pula para fotografer tersebut mengemukakan argumentasi agar harga jasa fotografi yang diajukannya dapat diterima nalar sang calon klien yang bertanya tadi.

Mungkin dalam benak sang calon klien yang polos tadi; wong cuma kerja bidik dan jepret saja kok bisa 'semahal' itu.

Sebenarnya profesi seorang fotografer itu tidak berbeda dari profesi-profesi lainnya. Apakah itu seorang dokter, programmer, aktris, masinis dan lain sebagainya. Semua harus dimulai dengan belajar dari nol. Baik itu fotografer yang belajar secara akademis maupun yang belajar secara otodidak. Pastinya memerlukan investasi biaya dan waktu yang tidak sedikit untuk bisa menjadi fotografer yang memiliki skill dan berpengalaman seperti sekarang.

Selain skill dan pengalaman, seorang fotografer juga harus memikirkan investasi di bidang peralatan yang akan menunjang pekerjaannya nanti. Seperti kamera, lampu studio, PC untuk editing dan lain-lain. Tanpa kamera seorang fotografer akan menjadi seperti seorang tentara tanpa senjata, dokter tanpa stetoskop. Harga kamera DSLR yang selangit dan umur pemakaian yang pendek serta suku cadang perlengkapan lainnya mau nggak mau harus masuk dalam perhitungan.

Terakhir tapi nggak kalah penting adalah kemampuan seorang fotografer dalam bidang editing foto atau olah digital. Walaupun kerja edit foto ini bisa dikerjakan oleh orang lain tapi seorang fotografer setidaknya harus memiliki kemampuan dan pengetahuan dasar dalam hal ini.

Faktor-faktor di atas tentunya akan menjadi pertimbangan seorang fotografer di dalam mematok harga jasa fotografinya. Sebagaimana seorang profesional lainnya, pastilah akan senang jika jasa atau pekerjaannya dihargai sesuai kemampuannya. Sebab jika seorang menginginkan kualitas, pastinya ada harga yang harus dibayar.

Bagaimana dengan pendapat sahabat?



Foto : tukangpoto
Client: INDORENT

Jumat, 22 Oktober 2010

Olah digital


SEBELUM
SESUDAH

Ketika fotografi digital mulai marak pada awal tahun 2000 an, olah digital pada hasil karya fotografinya menjadi sebuah keharusan jika tidak ingin karya fotonya tampil hanya apa adanya. Dengan sendirinya kegiatan olah digital ini menjadi dekat dengan keseharian masyarakat karena hanya dengan berbekal sebuah PC seseorang sudah dapat melakukan 'rekayasa' terhadap hasil karya foto yang pada jaman fotografi analog dulu hanya dapat dilakukan oleh seorang operator lab.studio foto.

Sebagai tukang foto, saya sendiri merasa sangat terbantu secara positif dengan kemampuan yang tidak terbatas dari adanya kemudahan olah digital. Dapat mengkomposisi ulang sebuah foto, memaksimalkan terang gelapnya, memperbaiki tampilan warna sesuai selera, mengaburkan latar belakang, menghapus elemen yang tidak diinginkan, yang jelas segala kemungkinan untuk memaksimalkan sebuah hasil karya foto dapat dilakukan.

Jadi tidak murni fotografi lagi dong?
Sebenarnya sejak fotografi analog dulu hasil karya foto kita sudah direkayasa oleh tukang cetak atau operator lab studio foto. Entah itu terang gelapnya, koreksi warnanya biar lebih kinclong, atau sekedar soal cropping untuk komposisi ulang.

Awalnya saya juga sedikit ragu, apakah dengan kemungkinan yang tidak terbatas dari olah digital dalam 'mengacak-acak' sebuah karya foto masih dapat disebut fotografi?

Paradigma di dalam memandang sebuah karya fotografi di era digital sekarang ini memang sudah saatnya untuk dirubah. Jika hanya melakukan olah digital untuk memperbaiki penampilan sebuah foto mungkin masih bisa dianggap wajar dan bisa diterima, asal tidak mengubah unsur yang substansial secara ekstrim.

Saya sendiri lebih cenderung menyebut karya fotografi saat ini sebagai digital imaging, bagaimana dengan pendapat sahabat?


foto : tukangpoto, media.volvocars.com
digital imaging : ANDRE LEONARDO 081318530630
client : INDORENT

Minggu, 19 September 2010

Pulang kampung

menjejak kaki di bumi Parahyangan
serta merta mencium wangi kota
logat daerah menyapa merdu di telinga
kudekap hangat dingin menusuk tulang
melanjut langkah menyusun nostalgi
bertahun sudah kutinggalkan kenangan
apa kabar tarian telanjang kaki kecil
mengiringi embun pagi basah
yang pergi bersama terik matahari
apakah citamu masih selugu dulu
apakah asamu masih polos
seperti ketika berjanji
ingin memberi panen bagi negri
harapku..semoga kerja ini
dapat merengkuh semua itu kembali


Bandung dalam kenangan 2010

Jumat, 17 September 2010

JASA FOTOGRAFI dari Fotografer Jurnal


Kami dari Fotografer Jurnal menyediakan jasa fotografi profesional untuk pemotretan foto produk, foto makanan, foto fashion, foto pre wedding, company profile dan lain-lain. Khusus harga foto produk mulai dari 50rb per item.
Untuk pertanyaan lebih lanjut dapat menghubungi : Didit 081381007303 atau diditdof@yahoo.com serta kunjungi galeri kami di FJ GALERI.

Setiap kebutuhan anda akan kami perlakukan dengan special dan sepenuh hati.


Foto : Karib Munajat

Selasa, 14 September 2010

Branding dalam fotografi

Ketika sebagian besar masyarakat kita mengasosiasikan merek 'aqua' untuk menunjuk kepada umumnya air mineral dalam kemasan, berarti merek tersebut telah berhasil dalam usaha brandingnya.

Secara umum, branding berarti sebuah cara untuk membuat masyarakat atau konsumen agar tertarik, mengingat lalu setia untuk menggunakan sebuah merek atau brand, malah kalau bisa menjadi fanatik dan dapat mempengaruhi orang lain untuk ikut menggunakannya.

Pada ranah fotografipun begitu, Pak Darwis Triadi contohnya. Setiap ada produsen kamera digital yang mengeluarkan produk barunya selalu saja menggunakan Pak Darwis sebagai duta produknya. Padahal di Indonesia ada banyak fotografer yang nggak kalah hebat karya serta dedikasinya. Tapi kenapa kalau soal menjadi duta gadget fotografi produk baru selalu saja Pak Darwis yang dipilih? Karena nama Darwis Triadi sendiri tidak hanya dikenal oleh kalangan fotografi saja tapi kalangan awampun sudah banyak yang mengetahuinya.

Jadi secara branding, nama Pak Darwis sudah sukses dikenal dan meraih kepercayaan akan jaminan mutu di bidang fotografi oleh berbagai kalangan.

Lalu bagi kita, sebagai insan penikmat dan penggelut fotografi, apakah kegiatan branding ini perlu dilakukan? Jawabannya tentu kembali berpulang kepada; sebagai media apakah kegiatan fotografi ini digunakan dalam kehidupan sehari-hari, sebagai sarana pendokumentasian biasa, hobi yang dapat menghilangkan stres, atau malah sebagai sarana pengisi periuk nasi?


Foto : tukangpoto

Jumat, 03 September 2010

Maaf pak, saya butuh buru-buru...

Sudah beberapa kali ini saya tidak bisa mengerjakan pekerjaan dari klien karena alasan di atas. Butuh cepat, buru-buru, sudah ditunggu hasil cetaknya dan sebagainya.

Sejak pertama kali klien menelpon saya dan mendeskripsikan kebutuhan fotografi mereka, secara otomatis langsung terbayang akan seperti apa komposisi fotonya, pencahayaan yang akan digunakan sekaligus dengan rencana olah digitalnya. Tapi ketika klien memberikan tengat waktu yang mepet untuk mengerjakannya, luntur sudah bingkai ideal yang tadi sudah terimajinasikan.

Untuk memulai sebuah pekerjaan atau assignment pastinya para klien itu sudah memperhitungkan jangka waktu penyelesaiannya. Begitu juga dengan bagian yang menyangkut kerja fotografi. Seharusnya mereka mengerti bahwa fotografi adalah kerja seni yang membutuhkan olah rasa akan keindahan. Dan pekerja fotonya butuh waktu untuk merenungkan serta mengaplikasikan keindahan tersebut.

Pekerjaan yang terburu-buru hanya akan merugikan kedua belah pihak. Pertama, bagi pihak klien; karena tidak mendapatkan hasil pekerjaan yang maksimal. Kedua, bagi pihak fotografer; karena tidak bisa memberikan hasil kerja yang maksimal dan citra yang kurang baik bagi portfolionya jika hasil foto tersebut kelak dipublikasikan.

Mudah-mudahan pemahaman kita akan kerja fotografi jadi bertambah dengan adanya pengalaman ini.


foto : Karib Munajat

Sabtu, 28 Agustus 2010

Megapiksel

Sepertinya topik megapiksel ini tidak pernah habis untuk dibicarakan. Terutama oleh para penjual kamera yang selalu mengiming-imingi para konsumen awamnya bahwa semakin tinggi angka megapiksel sebuah kamera maka semakin baik pula gambar yang dihasilkannya.

Suka merasa terganggu juga sih jika suatu kali sedang motret lalu ada yang bertanya, "Kameranya berapa megapiksel, mas?" Seolah hanya faktor megapiksel yang menentukan bagus tidaknya gambar yang akan dihasilkan oleh sebuah kamera. Tapi lama-kelamaan saya jadi maklum sendiri, bahwa masih banyak yang salah informasi tentang megapiksel ini.

Sebagai informasi, piksel adalah elemen terkecil dalam sebuah gambar digital yang direpresentasikan oleh sebuah titik. Makin tinggi jumlah titik yang dikandung dalam sebuah gambar, makin tinggi pula nilai resolusinya maka semakin baik pula kualitas gambar digital tersebut.

Jika hasil dokumentasi anda hanya akan disimpan dalam PC atau hanya akan dicetak dalam ukuran postcard, sebenarnya kamera saku 6 megapiksel sudah dapat menghasilkan gambar yang bagus.

Hal yang lebih menentukan kualitas gambar yang akan dihasilkan sebuah kamera digital adalah sensor. Sensor dalam kamera digital ibarat film negatif yang menerjemahkan cahaya ke dalam gambar. Sensor dengan ukuran lebih besar dan berkualitas lebih berpengaruh ketimbang piksel dalam proses menghasilkan gambar yang baik.

Sebagai perbandingan, kamera DSLR 6 megapiksel bersensor besar bisa menghasilkan kualitas gambar yang lebih baik daripada kamera saku 10 megapiksel bersensor kecil.

Semoga dapat membantu.

Kamis, 05 Agustus 2010

Tips memilih lensa

Dalam hal memilih lensa, sama seperti ketika kita memilih kamera mana yang ingin kita beli. Sebaiknya memang disesuaikan dengan kebutuhan jenis fotografi yang sedang kita geluti.
Beruntung bagi mereka yang sudah mengetahui secara pasti lensa mana yang dibutuhkan untuk menunjang kegiatan fotografinya. Yang paling susah adalah bagi yang belum bisa menentukan pilihannya tapi sudah berkeinginan dan berkemampuan untuk membeli lensa baru.

Untuk membantu memudahkan pemilihan jenis lensa, saya bagi jenisnya dalam 4 kategori :

- Lensa standar
Berukuran 50mm dengan sudut pandang mata normal, biasanya sudah menjadi satu paket bawaan ketika kita membeli kamera DSLR. Seperti pengalaman saya ketika mulai belajar fotografi dulu, lensa inilah yang menjadi andalan. Jika ada obyek yang menarik, kitalah yang harus maju mundur untuk mengatur komposisi terhadap si obyek. Saya sendiri rindu untuk mengembalikan fotografi sebagai hobi seperti dulu, nikmat sekali rasanya.

- Lensa wide angle
Berukuran antara 18mm sampai dengan 35mm dan bersudut pandang lebih lebar dari lensa standar. Sangat cocok bagi yang senang memotret pemandangan atau bagi yang suka bereksperimen dengan pandangan bersudut lebar, seperti foto di sini.

- Lensa tele
Berukuran antara 80mm keatas dan bersudut pandang sempit atau lebih terfokus pada sebuah obyek. Biasa digunakan untuk keperluan pemotretan model, fashion dan even olahraga.

- Lensa zoom
Memiliki range sudut pandang yang panjang dengan banyak pilihan untuk keperluan yang beragam. Ada yang berukuran 18mm-135mm atau wide angle ke telefoto, yang medium antara 35mm- 80mm atau telefoto ke super telefoto; 100mm-400mm. Karena kefleksibilitasannya ini sekarang lensa zoom banyak dijadikan senjata andalan para fotografer. Hanya dengan memutar ring lensa zoom, seorang fotografer sudah dapat melakukan berbagai komposisi pada obyek fotonya.

Semoga dapat membantu.



Sumber foto

Jumat, 30 Juli 2010

WORO-WORO JASA FOTOGRAFI

Bagi anda yang menggunakan jasa fotografi dari Fotografer Jurnal, secara otomatis produk atau jasanya akan direview di blog ini.

Hal ini akan menjadi program pelayanan tambahan dari Fotografer Jurnal agar produk yang menggunakan jasa fotografi kami bisa lebih dikenal lewat medium online.

Jadi bagi para sahabat pembaca diharap tidak harus bingung jika sewaktu-waktu blog ini menampilkan artikel mengenai review dari sebuah produk atau jasa.

Artikel-artikel mengenai fotografi masih akan terus ditingkatkan guna menambah wawasan pemahaman dan pengetahuan kita akan seluk beluk dunia fotografi serta untuk terus mempererat tali silaturahmi yang sudah terjalin selama ini.

Jadi jangan pada ke mana-mana,ya...
Sekian woro-woro dari kami. Salam jepret!

Kamis, 22 Juli 2010

Foto human interest

Tentunya foto-foto dengan obyek manusia sudah tidak asing lagi di mata para sahabat. Apalagi foto-foto ini bisa dengan mudahnya kita jumpai setiap hari di koran-koran, majalah, media internet dan media lainnya.

Foto-foto dengan tema manusia biasanya tercantum sebagai gambar ilustrasi penguat sebuah artikel. Karena seperti dikatakan bahwa sebuah foto bisa lebih kuat maknanya daripada ribuan kata.

Foto yang menggambarkan manusia yang sedang beraktifitas lengkap dengan ekspresinya yang tergambar secara detail biasa disebut dengan foto human interest.

Dan biasanya foto-foto human interest yang dapat menggambarkan ekspresi obyeknya dengan kuat selalu disajikan dalam warna hitam putih. Mengapa? Karena foto hitam putih dapat membawa pemirsanya untuk memusatkan perhatian langsung pada ekspresi obyek utamanya tanpa terganggu oleh kehadiran warna-warna.



Foto : Menik